- Ciri-ciri Kacamata Berkamera Tersembunyi
- 1. Memiliki Desain yang Mirip dengan Kacamata Biasa
- 2. Kamera Disamarkan pada Bagian Bingkai
- 3. Dilengkapi Fitur Tambahan
- 4. Sulit Dikenali karena Menyatu dengan Desain
- Risiko Kacamata Berkamera Tersembunyi
- 1. Berpotensi Mengganggu Privasi
- 2. Berisiko Menimbulkan Sengketa
- 3. Berpotensi Melanggar Hak Privasi
- 4. Dapat Menimbulkan Konsekuensi Hukum
- Cara Kenali Kacamata Berkamera Tersembunyi
TECHRUNNER.ID – Isu mengenai kacamata berkamera tengah menjadi perbincangan luas usai viralnya polemik yang terjadi di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.
Peristiwa tersebut memicu diskusi panjang mengenai batasan penggunaan teknologi, perlindungan privasi, hingga pentingnya memahami ciri-ciri kacamata berkamera yang memiliki kemampuan merekam secara tersembunyi.
Kontroversi itu sendiri bermula dari sebuah konten media sosial yang menampilkan seorang usher atau Sales Promotion Girl (SPG) di area pameran.
Belakangan, usher GIIAS yang tampil dalam video tersebut mengaku dirinya menjadi objek utama perekaman tanpa pernah memberikan persetujuan terlebih dahulu.
Ia juga menyebut baru mengetahui bahwa proses perekaman diduga dilakukan menggunakan kamera yang terpasang pada sebuah kacamata.
“Di sini tidak ada persetujuan diawal kalau yg dibuat konten itu adalah aku perorangan, mereka juga tidak menunjukan diawal konten apa yg mereka buat, mereka juga tidak memberitahukan bahwa mereka memakai KAMERA YANG ADA DIKACAMATANYA untuk merekam aku dari depan,” tulisnya, seperti dikutip pada Senin, 3 Agustus 2026.
Setelah mengetahui videonya diunggah ke media sosial, usher tersebut mengaku langsung menghubungi pembuat konten melalui pesan langsung.
Dia meminta agar video yang menampilkan dirinya segera dihapus. Namun, kata dia, permintaan tersebut ditolak dengan alasan proses pengambilan gambar dilakukan di ruang publik.
“Setelah aku men-DM untuk meminta mentakedown videonya, konten kreator ini tidak mau dengan alasan public space jadi bebas. Kalau memang isi video mereka tentang crowd atau mereka sedang memvideo diri mereka sendiri tetapi aku secara tidak sengaja masuk ke dalam videonya, menurut aku alasan itu baru masuk akal,” jelasnya.
Tak hanya itu, perempuan tersebut juga mengungkap adanya dugaan bahwa beberapa usher lain mengalami pengalaman serupa.
Ia menyebut rekan-rekannya yang meminta agar video mereka tidak dipublikasikan justru diminta membayar sejumlah uang sebagai pengganti biaya produksi konten.
“Bahkan teman-teman aku sesama usher yang meminta mereka untuk tidak mempost video mereka malah DIMINTAI SEJUMLAH UANG (pemerasan kah?)” ujarnya.
Meski demikian, perlu dipahami bahwa tidak semua kacamata berkamera digunakan untuk tujuan yang melanggar privasi.
Perangkat ini pada dasarnya dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, seperti dokumentasi aktivitas, komunikasi, hingga pembuatan konten digital.
Penggunaannya pun sah selama dilakukan sesuai aturan dan tetap menghormati hak orang lain.
Persoalannya muncul ketika teknologi tersebut digunakan untuk merekam seseorang tanpa pemberitahuan atau tanpa persetujuan.
Lantas, bagaimana cara mengenali kacamata yang dilengkapi kamera tersembunyi?
Apa saja ciri-ciri yang membedakannya dari kacamata biasa, serta risiko yang perlu dipahami terkait penggunaan perangkat tersebut? Berikut ulasan lengkapnya.
Ciri-ciri Kacamata Berkamera Tersembunyi
1. Memiliki Desain yang Mirip dengan Kacamata Biasa
Salah satu karakteristik utama kacamata berkamera adalah desainnya yang sekilas tidak berbeda dengan kacamata konvensional.
Bentuk bingkai, ukuran, hingga tampilannya dibuat menyerupai kacamata sehari-hari sehingga keberadaan kameranya tidak mudah dikenali oleh orang lain.
2. Kamera Disamarkan pada Bagian Bingkai
Kamera pada perangkat ini umumnya berukuran sangat kecil dan ditempatkan di bagian bingkai, terutama di area dekat engsel atau sudut depan kacamata.
Penempatan tersebut membuat lensa tampak seperti ornamen atau bagian dari desain kacamata.
3. Dilengkapi Fitur Tambahan
Selain kamera, beberapa model kacamata pintar juga dibekali fitur lain, seperti mikrofon, speaker, hingga lampu indikator yang berfungsi menunjukkan perangkat sedang aktif merekam atau menjalankan fitur tertentu.
Keberadaan fitur-fitur tersebut menjadi salah satu pembeda antara kacamata pintar dan kacamata biasa.
4. Sulit Dikenali karena Menyatu dengan Desain
Karena seluruh komponen dirancang menyatu dengan bingkai, kacamata berkamera sering kali sulit dibedakan dari kacamata biasa hanya dengan melihat sekilas.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatikan detail fisik, seperti posisi lensa, bentuk ornamen, maupun adanya lampu indikator pada bingkai.
Risiko Kacamata Berkamera Tersembunyi
1. Berpotensi Mengganggu Privasi
Pada dasarnya, kacamata berkamera merupakan perangkat teknologi yang legal dan dirancang untuk berbagai kebutuhan, seperti dokumentasi aktivitas, komunikasi, maupun pembuatan konten.
Namun, apabila digunakan tanpa memperhatikan privasi orang lain, perangkat tersebut berpotensi menimbulkan persoalan, terutama ketika seseorang direkam tanpa sepengetahuan atau persetujuannya.
2. Berisiko Menimbulkan Sengketa
Perekaman tanpa izin dapat memicu perselisihan antara pembuat konten dan pihak yang menjadi objek rekaman.
Dalam sejumlah kasus, persoalan tersebut berkembang menjadi sengketa akibat adanya perbedaan pandangan mengenai penggunaan rekaman di ruang publik.
3. Berpotensi Melanggar Hak Privasi
Apabila hasil rekaman disebarluaskan tanpa persetujuan pihak yang menjadi objek utama, tindakan tersebut dapat dianggap melanggar hak privasi.
Karena itu, penggunaan perangkat berkamera perlu tetap mengedepankan etika dan menghormati hak setiap individu.
4. Dapat Menimbulkan Konsekuensi Hukum
Dalam kondisi tertentu, penyebaran rekaman tanpa izin juga dapat menimbulkan konsekuensi hukum, terutama apabila memenuhi unsur pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Oleh sebab itu, pengguna kacamata berkamera diharapkan menggunakan perangkat secara bertanggung jawab, sementara masyarakat perlu memahami ciri-cirinya agar lebih waspada terhadap perkembangan teknologi yang semakin canggih.
Cara Kenali Kacamata Berkamera Tersembunyi
1. Perhatikan Posisi Kamera pada Bingkai Kacamata
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memperhatikan posisi kamera pada bingkai kacamata.
Pada kacamata pintar seperti Meta Ray-Ban maupun Oakley Meta, kamera umumnya tidak ditempatkan di bagian tengah bingkai.
Sebaliknya, lensa kamera disembunyikan di bagian ujung bingkai depan, tepatnya pada sudut kiri atas dan kanan atas yang berada di dekat engsel kacamata.
Sementara itu, pada kacamata biasa, area tersebut umumnya hanya diisi ornamen dekoratif, seperti aksen berbentuk oval, lingkaran, atau hiasan logam yang berfungsi sebagai pelengkap desain.
2. Amati Bentuk Ornamen di Dekat Engsel
Cara berikutnya adalah memperhatikan bentuk ornamen yang terdapat di sisi kiri maupun kanan bingkai.
Apabila ornamen tersebut berbentuk lingkaran hitam dengan bagian tengah yang tampak lebih mengilap menyerupai kaca, ada kemungkinan bagian tersebut merupakan lensa kamera.
Sebaliknya, ornamen pada kacamata biasa umumnya tidak memiliki lapisan kaca maupun permukaan yang menyerupai lensa.
Meski demikian, bentuk fisik saja tidak selalu cukup untuk memastikan sebuah perangkat memiliki kamera, sehingga diperlukan pengamatan lebih teliti terhadap keseluruhan desain kacamata.
3. Perhatikan Warna Bingkai Kacamata
Warna bingkai juga dapat memengaruhi kemudahan dalam mengenali keberadaan kamera.
Pada bingkai berwarna terang, seperti putih atau krem, lensa kamera biasanya lebih mudah terlihat karena menghasilkan kontras yang jelas dengan warna bingkai.
Sebaliknya, pada bingkai hitam, cokelat, atau abu-abu, lensa kamera dapat menyatu dengan desain sehingga tampak seperti ornamen biasa dan lebih sulit dikenali.
Karena itu, masyarakat disarankan lebih cermat ketika melihat detail pada bagian depan bingkai, khususnya di sekitar engsel.
4. Biasakan Mengamati Detail Kacamata
Selain memperhatikan posisi dan bentuk lensa, masyarakat juga disarankan mulai membiasakan diri mengamati detail kacamata yang dikenakan seseorang, terutama saat berada dalam situasi yang melibatkan interaksi langsung.
Langkah ini bukan untuk menimbulkan rasa curiga terhadap pengguna kacamata pintar, melainkan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap perkembangan teknologi yang semakin canggih.
Pemahaman mengenai karakteristik kacamata berkamera juga menjadi bagian dari literasi digital, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus menghormati hak privasi setiap individu.









