Kenapa Karakter Wanita di Game Jepang Sering Berdada Besar? Ternyata Ini Alasannya

Wednesday, 27 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Karakter wanita dalam game buatan studio Jepang kini disebut sengaja dibuat lebih dewasa secara visual untuk menghindari risiko sensor dan penolakan platform distribusi game. (Sumber: Nitendo)

Karakter wanita dalam game buatan studio Jepang kini disebut sengaja dibuat lebih dewasa secara visual untuk menghindari risiko sensor dan penolakan platform distribusi game. (Sumber: Nitendo)

TECHRUNNER – Industri game Jepang kembali jadi perbincangan setelah pernyataan dari CEO studio game Jepang Qureate, Yuji Usuda, viral di komunitas gamer. Dalam sebuah wawancara, Usuda menjelaskan alasan mengapa banyak karakter wanita di game buatan studionya tampil dengan tubuh sensual dan ukuran dada yang besar. Menurutnya, keputusan itu bukan semata soal fan service, tetapi juga berkaitan dengan regulasi platform game yang semakin ketat.

Melansir dari X @AUTOMATON_ENG, Usuda mengungkapkan bahwa menggambarkan karakter wanita dewasa dengan tubuh mungil atau dada kecil kini dianggap berisiko. Walaupun karakter tersebut secara jelas digambarkan sebagai orang dewasa, pihak platform seperti konsol dan toko digital bisa menilai tampilannya terlalu menyerupai anak-anak. Risiko terburuknya adalah game dapat ditolak tayang atau diblokir sepenuhnya.

Karena alasan itulah, Qureate memilih pendekatan yang dianggap lebih aman. Mereka membuat sebagian besar karakter wanitanya memiliki proporsi tubuh dewasa yang sangat jelas agar tidak memicu masalah saat proses distribusi di platform komersial.

Tampilan Gameplay Bunny Garden (Sumber: Nitendo)
Tampilan Gameplay Bunny Garden (Sumber: Nitendo)

Regulasi Platform Game Dinilai Semakin Ketat

Fenomena sensor dan regulasi konten di industri game sebenarnya bukan hal baru. Namun dalam beberapa tahun terakhir, banyak developer Jepang mulai menyesuaikan desain karakter demi menghindari pelanggaran kebijakan platform.

Bagi studio seperti Qureate yang dikenal lewat game bertema sensual dan komedi absurd, perubahan aturan ini menjadi tantangan tersendiri. Mereka harus mencari keseimbangan antara identitas game dan standar distribusi global.

Salah satu contoh datang dari game terbaru mereka, Bunny Garden 2. Game simulasi dating berlatar klub hostess tersebut berhasil menarik perhatian gamer dan kini tersedia di PC melalui Steam serta konsol Nintendo Switch. Meski demikian, versi Switch dari game itu disebut harus mengalami beberapa penyesuaian visual sebelum lolos rilis.

Dalam salah satu adegan, elemen lotion wajah pada karakter diganti menjadi lumpur hijau untuk menghindari interpretasi yang dianggap terlalu sugestif. Perubahan tersebut menjadi contoh bagaimana detail kecil dalam game kini bisa memengaruhi proses persetujuan platform.

Selain Bunny Garden 2, studio ini juga dikenal lewat game unik berjudul Fantasista Asuka, game sepak bola dengan elemen anime dan komedi di mana kostum karakter dapat hancur ketika mengeluarkan jurus spesial.

Tampilan Gameplay Bunny Garden (Sumber: Nitendo)
Tampilan Gameplay Bunny Garden (Sumber: Nitendo)

Developer Pilih Aman Daripada Game Gagal Rilis

Dalam wawancara tersebut, Usuda mengaku sering menerima pertanyaan dari pemain soal minimnya variasi bentuk tubuh karakter wanita di game mereka. Ia mengatakan bahwa timnya sebenarnya ingin menghadirkan desain karakter yang lebih beragam.

“Orang-orang sering melihat game kami lalu berkata, ‘Kenapa isinya cuma karakter berdada besar semua?’ Tapi ada beberapa hal yang memang tidak bisa kami hindari. Sejujurnya, kami ingin menghadirkan karakter yang lebih beragam, tetapi kalau kami mengambil risiko dengan desain tertentu lalu akhirnya game-nya malah tidak bisa dirilis sama sekali, itu jadi sia-sia.” ujar Usuda dikutip dari X/@automaton_eng Rabu, 27 Mei 2026.

Namun di sisi lain, risiko penolakan platform dianggap terlalu besar. Jika game sampai diblokir setelah proses produksi panjang, kerugian finansial dan waktu yang dihadapi studio akan jauh lebih besar dibanding melakukan penyesuaian desain sejak awal.

Menurut Usuda, situasi ini membuat banyak developer akhirnya mengambil keputusan pragmatis. Mereka lebih memilih mengikuti batas aman yang dipahami platform dibanding mempertaruhkan nasib game mereka.

Meski harus menghadapi banyak revisi, Yuji Usuda mengaku tetap bersyukur karena pihak platform masih memberikan panduan dan arahan yang jelas. Baginya, menerima permintaan perubahan jauh lebih baik dibanding game tidak bisa dirilis sama sekali.

Pernyataan tersebut sekaligus membuka gambaran tentang tekanan yang kini dihadapi developer game Jepang, terutama mereka yang bergerak di genre anime, dating simulator, dan game bertema sugestif. Di balik desain karakter yang sering dianggap berlebihan oleh pemain, ternyata ada faktor regulasi industri yang ikut membentuk keputusan kreatif para pengembang.

Berita Terkait

Resident Evil Series Terbaru Akan Berlatar Jepang, Capcom Akui Sudah Lama Pertimbangkan Ide Ini
Timnas Hadir di FC 26, Ini Cara Mainkan Indonesia tanpa Mod
Trailer Perdana Call of Duty: Modern Warfare 4 Akhirnya Dirilis
Game Kereta Buatan Developer Indonesia Dipuji Gamer Jepang, Running Train Jadi Sorotan di Steam
10 Game Steam yang Sedang Viral dan Banyak Dimainkan Saat Ini
Mobil MBG Viral Masuk Forza Horizon 6, Begini Cara Klaim dan Memakainya
Bedah Perbedaan PlayStation 5 Pro vs PS5 Edisi Standar
6 Tips Genshin Impact 2026 untuk Player Baru, Jangan Habiskan Primogem Sembarangan

Berita Terkait

Wednesday, 3 June 2026 - 20:27

Resident Evil Series Terbaru Akan Berlatar Jepang, Capcom Akui Sudah Lama Pertimbangkan Ide Ini

Saturday, 30 May 2026 - 17:08

Timnas Hadir di FC 26, Ini Cara Mainkan Indonesia tanpa Mod

Friday, 29 May 2026 - 17:27

Trailer Perdana Call of Duty: Modern Warfare 4 Akhirnya Dirilis

Friday, 29 May 2026 - 09:41

Game Kereta Buatan Developer Indonesia Dipuji Gamer Jepang, Running Train Jadi Sorotan di Steam

Wednesday, 27 May 2026 - 07:24

Kenapa Karakter Wanita di Game Jepang Sering Berdada Besar? Ternyata Ini Alasannya

Berita Terbaru