TECHRUNNER – Perdebatan mengenai kecerdasan buatan kembali memanas setelah hacker legendaris George Hotz melontarkan kritik keras terhadap penggunaan agen AI dalam pengembangan perangkat lunak.
Sosok yang dikenal sebagai peretas pertama iPhone menilai tren penggunaan AI coding agent berpotensi membawa industri teknologi menuju “bencana besar”.
Dalam tulisan blog terbarunya berjudul The Eternal Sloptember, Hotz menyebut adopsi massal agen AI untuk membuat kode program secara mandiri dapat menjadi salah satu kesalahan paling merugikan dalam sejarah dunia software.
George Hotz Soroti Risiko AI dalam Pengembangan Software

Menurut Hotz, perusahaan teknologi saat ini terlalu cepat mempercayakan proses pengembangan software kepada agen AI tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kualitas kode.
“Agen AI tidak benar-benar bisa membuat program,” tulis Hotz dalam blognya yang dikutip Selasa, 26 Mei 2026. Ia menilai sistem tersebut hanya menghasilkan kode berbasis pola statistik yang tampak meyakinkan, tetapi menyimpan banyak kerusakan tersembunyi.
Hotz juga menggambarkan penggunaan AI agent seperti “tuas mesin slot” yang membuat pengembang terus mencoba hasil baru meski kualitasnya belum tentu baik.
“Hasilnya rusak, tetapi semakin sulit dideteksi. Inilah yang memang diharapkan dari model statistik yang makin akurat,” ujar dia.
Perdebatan Panas antara George Hotz dan Andrej Karpathy
Tulisan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah peneliti AI ternama Andrej Karpathy bergabung dengan tim pra-pelatihan di Anthropic.
Karpathy dikenal sebagai salah satu tokoh yang mendukung penggunaan AI agent untuk membantu proses coding dan pengembangan software modern. Ia sebelumnya beberapa kali menyatakan bahwa AI sudah mulai mengubah cara programmer bekerja.
Situasi ini membuat Hotz dan Karpathy dianggap mewakili dua kubu berbeda dalam industri teknologi: pihak yang optimistis terhadap masa depan AI dan pihak yang khawatir terhadap dampak jangka panjangnya.
Hotz Bantah Kritiknya Berasal dari Ketakutan Digantikan AI
George Hotz menegaskan kekhawatirannya bukan karena takut kehilangan pekerjaan akibat AI. Ia justru menyoroti ancaman terhadap kualitas perangkat lunak apabila semua perusahaan menggunakan alat yang sama secara bersamaan.
“Saya tidak sedang memikirkan soal digantikan. Saya memikirkan apa yang terjadi pada kualitas kode ketika semua orang memakai alat ini sekaligus,” katanya.
Ia bahkan menduga ketakutan terhadap AI sengaja dimanfaatkan untuk mendorong perusahaan besar mengadopsi teknologi tersebut lebih cepat.
“Rasa takut tertinggal menjadi satu-satunya cara untuk membuat perusahaan bergerak. Namun menurut saya, dalam ketakutan itu mereka justru membuat kesalahan besar,” tambah Hotz.
Agen AI Semakin Populer di Industri Teknologi
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan AI agent untuk membantu coding memang berkembang pesat. Sejumlah perusahaan teknologi mulai mengintegrasikan fitur AI ke dalam proses pengembangan software untuk meningkatkan efisiensi kerja programmer.
Teknologi seperti AI coding assistant dari OpenAI, Google, hingga Anthropic menjadi sorotan karena dinilai mampu mempercepat pembuatan aplikasi dan otomatisasi kode.
Meski begitu, kritik terkait keamanan, kualitas kode, hingga potensi bug tersembunyi masih menjadi perhatian utama para ahli keamanan siber dan pengembang software.






