Setara dengan 110 Pohon, BRIN Luncurkan Teknologi Penangkapan Karbon Berbasis Mikroalga untuk Kawasan Perkotaan

Thursday, 8 October 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Perangkat penangkap karbon berbasis mikroalga, Olimpus Fotobioreactor Carbon Capture Utilization & Storage Apollo 1.0 yang dikembangkan BRIN dan PT ASI. (Sumber: Techrunner/Dzikrillah Tauzirie)

Perangkat penangkap karbon berbasis mikroalga, Olimpus Fotobioreactor Carbon Capture Utilization & Storage Apollo 1.0 yang dikembangkan BRIN dan PT ASI. (Sumber: Techrunner/Dzikrillah Tauzirie)

TECHRUNNER.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi meluncurkan teknologi penangkapan karbon berbasis fotobioreaktor mikroalga untuk kawasan perkotaan dan industri. Dalam pengembangan teknologi ini, BRIN menggandeng PT Alam Semesta Integra (PT ASI) yang merupakan perusahaan di bidang lingkungan.

Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan bahwa peluncuran teknologi penangkapan karbon berbasis mikroalga ini merupakan terobosan yang sangat penting serta bisa mendukung dekarbonisasi di kawasan perkotaan.

“Hal yang penting di sini adalah, perangkat ini memiliki kemampuan menyerap karbon setara dengan 110 pohon mahoni yang usianya di atas 15 tahun. Jadi mudah-mudahan alat ini bisa dikembangkan dan diaplikasikan di berbagai tempat, agar penyerapan karbon terus bisa dilakukan dengan baik dan membuat udara lebih bersih,” ucap Arif saat meresmikan Pilot Project Olimpus Fotobioreactor Carbon Capture Utilization & Storage Apollo 1.0 di Kantor BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.

Arif menyebutkan bahwa perangkat ini telah memperoleh sertifikasi ISO 14064 serta sebagai upaya merespons perubahan iklim.

Ia pun berharap teknologi ini bisa diterapkan secara masif di Indonesia, guna mengurangi emisi dan bisa membuat udara lebih bersih dan sehat. Selain itu, riset yang dilakukan juga dapat berkontribusi terhadap aspek ekonomi sehingga dapat mendukung transisi ekonomi hijau.

“Project Carbon Capture Utilization yang berbasis mikroalga sekarang akan dipasang di Gedung BRIN. Moga-moga dengan teknologi ini adalah upaya kita merespons perubahan iklim, salah satu alirannya adalah ecological modernization dan salah satu bentuknya adalah teknologi,” ucapnya.

“Aspek ekonomi dan perilaku sirkuler juga hadir untuk bisa memperkaya bagaimana kita mampu menganalisis pasar karbon dan proses efekitif terhadap perangkat tersebut untuk mendukung transisi ekonomi hijau,” sambungnya.

Sementara itu, Direktur PT ASI, Eddy Setiawan mengatakan untuk menggerakan satu sistem perangkat ini ditenagai oleh energi tenaga surya atau solar panel.

Cara kerjanya, mikroalga ini akan berfotosintesis saat terkena cahaya matahari dan cara penangkapan polusinya ada dua sistem. Satu di dalam air, satu lagi di permukaan air.

“Unit kami ini ada yang indoor dan outdoor, kalau indoor menggunakan solar panel dan outdoor mengandalkan cahaya matahari. Namun kami juga siapkan energi untuk listrik, jadi hybrid,” kata Eddy.

Ia mengatakan bahwa perangkat ini sangat efisien untuk penangkapan karbon, karena setara dengan 110 pohon mahoni, yang mana untuk menanam pohon tersebut dibutuhkan lahan sekira 5.000 sampai 1 hektar.

“Unit Olimpus ini hanya 25 meter persegi, bagi kota-kota yang menghadapi keterbatasan ruang terbuka hijau. Dengan desain modular, dapat ditempatkan dan diintegrasikan di kawasan perkotaan, industri, jalan protokol, pusat perbelanjaan, hotel hingga berbagai fasiltas umum,” kata Eddy.

Meski begitu, perangkat ini nantinya akan dikomersialisasikan, namun terkait urusan harga masih dalam tahap diskusi.

“Yang jelas harga per unit kami masih dalam tahap diskusi, ya, karena banyak stakeholder yang terkait, ya. Tetapi secara komersil kami juga memberikan paket maintenance. Paket maintenance itu selama 3 tahun, dan maintenance yang kita lakukan adalah setiap bulan. Ya, setiap bulan kami akan mendatangkan tim untuk melakukan harvest. Karena mikroalga ini setiap hari dia bertumbuh, ya, dan akan menjadi padat, sehingga setiap bulan kami harus meng-harvest. Dan maintenance per 3 bulan kami akan menguras seluruh fotobioreaktor,” ucapnya.

Manfaat Teknologi Penangkapan Karbon

Periset BRIN, Irma mengatakan bahwa manfaat dari teknologi ini banyak selain menangkap karbon dioksida juga bisa membersihkan atmosfer.

Lebih lanjut, mikroalga ini bermanfaat untuk bioenergi, bahan pangan hingga berbagai macam produk lainnya.

“Mikroalga menangkap karbon dioksida, kemudian melepasnya menjadi oksigen. Dari mulai proses sampai hasil akhirnya pun bisa bermafaat, jadi enggak ada yang terbuang, istilahnya zero waste. Biomasanya juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, jadi ini sebenarnya sangat-sangat terintegrasi, bio-circular economy-nya juga jalan,” tuturnya.

Ia pun berharap teknologi yang dihasilkan dari hasil riset ini bisa berada di tempat-tempat yang tinggi emisi. Pasalnya, perangkat ini ditujukkan untuk kawasan perkotaan dan industri.

“Inginnya ada dimana-mana, awal projectnya ini megapolitan, artinya di tempat-tempat yang emisinya tinggi misal Jakarta atau kawasan industri seperti Bekasi dan Tangerang. Lokasi-lokasi yang tinggi emisi target utamanya. Jadi ini memang wilayah perkotaan, karena tujuannya untuk menangkap karbon dioksida yang bisa diubah menjadi oksigen,” ujarnya.

Follow WhatsApp Channel techrunner.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harga RTX 3060 12GB Melonjak Hingga 60 Persen, Nyaris Mendekati RTX 5060
Nintendo Hapus 401 Emulator Nintendo Switch di GitHub!
Sony Ragu Hapus Game Fisik PlayStation? Imbas Strategi Xbox!
Kebocoran Data Steam 12TB: Harta Karun Game Lama Bocor!

Berita Terkait

Thursday, 8 October 2026 - 21:34

Setara dengan 110 Pohon, BRIN Luncurkan Teknologi Penangkapan Karbon Berbasis Mikroalga untuk Kawasan Perkotaan

Tuesday, 1 September 2026 - 11:42

Harga RTX 3060 12GB Melonjak Hingga 60 Persen, Nyaris Mendekati RTX 5060

Monday, 31 August 2026 - 16:07

Nintendo Hapus 401 Emulator Nintendo Switch di GitHub!

Monday, 31 August 2026 - 15:45

Sony Ragu Hapus Game Fisik PlayStation? Imbas Strategi Xbox!

Berita Terbaru