TECHRUNNER – Indonesia resmi menjadi salah satu anggota pendiri World AI Cooperation Organization (WAICO), organisasi internasional yang dipimpin China dan berfokus pada pengembangan serta tata kelola kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di tingkat global.
Pembentukan WAICO dinilai sebagai langkah strategis Beijing untuk memperkuat pengaruhnya dalam lanskap teknologi AI dunia, di tengah persaingan yang semakin ketat dengan Amerika Serikat.
Selain Indonesia, sejumlah negara seperti Pakistan dan Kazakhstan juga tercatat sebagai anggota pendiri organisasi tersebut.
WAICO Jadi Babak Baru Diplomasi AI Global

Tata kelola AI kini menjadi salah satu arena persaingan geopolitik paling penting. Selain berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, teknologi AI juga dinilai memiliki dampak besar terhadap keamanan nasional dan daya saing suatu negara.
Kehadiran WAICO menandai langkah konkret China dalam membangun kerja sama internasional di bidang AI.
Melalui organisasi ini, Beijing mendorong model pengembangan AI berbasis sumber terbuka (open source) yang diklaim dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai negara.
Pendekatan tersebut berbeda dengan kebijakan Amerika Serikat yang lebih menitikberatkan pada penguatan kepemimpinan nasional melalui strategi AI yang dikembangkan pemerintah Washington.
Indonesia Tegaskan Komitmen dalam Tata Kelola AI
Perjanjian pembentukan WAICO ditandatangani oleh para anggota pendiri dalam forum yang berlangsung di Shanghai, sebagaimana dilaporkan Bloomberg News pada Jumat, 17 Juli 2026.
Indonesia diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Dalam keterangannya, Airlangga menjelaskan bahwa WAICO dibentuk untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan sekaligus tata kelola AI yang aman, adil, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan manusia.
Menurutnya, keterlibatan Indonesia sebagai anggota pendiri merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam berpartisipasi aktif menyusun arah kebijakan AI global.
“Melalui wadah ini, Indonesia berkomitmen untuk mengambil peran aktif menjembatani kesenjangan kemampuan teknologi secara global atau bridging the AI divide,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya.
Indonesia Ingin AI Memberikan Manfaat yang Setara
Airlangga menilai keikutsertaan Indonesia di WAICO menjadi langkah strategis agar perkembangan AI dunia tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan memberikan manfaat yang merata, khususnya bagi negara-negara berkembang.
Sebagai organisasi yang berfokus pada pemanfaatan AI untuk sektor sipil, WAICO diharapkan menjadi wadah penyusunan standar tata kelola AI global sekaligus memperluas kolaborasi antarnegara dalam pengembangan teknologi tersebut.
Xi Jinping: AI Harus Jadi Simfoni Kolaborasi Global
Dalam pembukaan World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa perkembangan AI seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia, bukan dikuasai oleh satu negara saja.
Xi menyampaikan bahwa pengembangan kecerdasan buatan membutuhkan kerja sama internasional agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
“Pengembangan AI tidak seharusnya menjadi a solo performance oleh satu negara, melainkan a symphony of global collaboration,” kata Xi Jinping.
Persaingan AI Tak Lagi Sekadar Soal Teknologi
Sementara itu, Menteri AI dan Pembangunan Digital Kazakhstan, Zhaslan Madiyev, mengatakan bahwa kompetisi global di bidang AI kini telah berkembang jauh melampaui inovasi teknologi semata.
Menurutnya, negara-negara kini juga bersaing dalam membangun talenta digital, kapasitas komputasi, kepemilikan data, hingga peluang untuk ikut menyusun aturan internasional terkait pengembangan AI.
Kondisi tersebut membuat pembentukan organisasi seperti WAICO dinilai memiliki peran penting dalam menentukan arah tata kelola kecerdasan buatan di masa depan.









