TECHRUNNER – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Teknologi ini hadir dalam berbagai perangkat digital, mulai dari mesin pencari, aplikasi rekomendasi, hingga asisten virtual yang tersedia di smartphone.
Salah satu implementasi AI yang paling banyak digunakan masyarakat adalah asisten virtual seperti Siri milik Apple dan Google Assistant.
Keduanya mampu memahami perintah suara, menjawab pertanyaan, hingga membantu pengguna menyelesaikan berbagai aktivitas hanya melalui percakapan.
Lantas, sebenarnya Siri dan Google Assistant termasuk jenis AI apa? Berikut penjelasan lengkapnya.
Siri dan Google Assistant Termasuk Narrow AI

Berdasarkan penjelasan dari IRI serta berbagai referensi mengenai kecerdasan buatan, Siri dan Google Assistant masuk dalam kategori Artificial Narrow Intelligence (ANI) atau lebih dikenal sebagai Narrow AI maupun Weak AI.
Jenis AI ini dirancang untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu dengan tingkat akurasi tinggi.
Kemampuannya meliputi pengenalan suara (speech recognition), pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing/NLP), hingga memberikan respons berdasarkan permintaan pengguna.
Meskipun terlihat pintar, Narrow AI tidak memiliki kemampuan berpikir layaknya manusia. Sistem ini hanya bekerja sesuai data pelatihan dan fungsi yang telah diprogram sehingga tidak mampu menyelesaikan persoalan di luar bidang keahliannya.
Karakteristik Utama Narrow AI
Sebagai teknologi AI yang saat ini paling banyak digunakan, Narrow AI memiliki sejumlah karakteristik, di antaranya:
1. Dirancang untuk Tugas Tertentu
Narrow AI bekerja secara optimal dalam satu bidang spesifik, seperti pengenalan wajah, pengenalan suara, penerjemahan bahasa, hingga sistem rekomendasi pada platform digital.
2. Memanfaatkan Natural Language Processing (NLP)
Teknologi NLP memungkinkan AI memahami bahasa manusia, menganalisis maksud pengguna, lalu memberikan jawaban yang relevan. Fitur ini menjadi fondasi utama pada Siri, Google Assistant, maupun chatbot modern.
3. Belajar dari Data
Model AI dilatih menggunakan kumpulan data dalam jumlah besar agar mampu meningkatkan tingkat akurasi ketika mengenali pola maupun memberikan respons.
4. Mendukung Personalisasi
Narrow AI juga mampu mempelajari preferensi pengguna sehingga dapat menyajikan rekomendasi yang lebih sesuai, misalnya pada layanan streaming, e-commerce, maupun pencarian informasi.
Jenis AI Selain Narrow AI
Selain Artificial Narrow Intelligence, para peneliti membagi AI ke dalam dua kategori lain berdasarkan tingkat kecerdasannya.
Artificial General Intelligence (AGI)
Artificial General Intelligence (AGI) merupakan konsep AI yang diharapkan memiliki kemampuan berpikir, belajar, memahami konteks, serta menyelesaikan berbagai jenis masalah layaknya manusia.
Hingga kini, AGI masih berada pada tahap penelitian dan belum berhasil diwujudkan sepenuhnya.
Beberapa teknologi yang dinilai menjadi langkah menuju AGI antara lain:
- Large Language Models (LLMs) seperti GPT yang mampu memahami dan menghasilkan bahasa alami untuk berbagai tugas.
- Mobil otonom (self-driving cars) yang menggunakan AI untuk mengenali lingkungan dan mengambil keputusan saat berkendara.
- Robot berbasis AI yang terus dikembangkan agar dapat beradaptasi dalam berbagai kondisi nyata.
Meski demikian, teknologi-teknologi tersebut masih tergolong Narrow AI karena kemampuan mereka tetap terbatas pada fungsi tertentu.
Artificial Superintelligence (ASI)
Artificial Superintelligence (ASI) merupakan konsep AI hipotetis yang diperkirakan memiliki kecerdasan jauh melampaui manusia dalam hampir seluruh aspek, termasuk kreativitas, analisis, pemecahan masalah, hingga pengambilan keputusan.
Sampai saat ini, ASI masih sebatas teori dan belum ada sistem AI yang berhasil mencapai tingkat tersebut.
Beberapa bidang penelitian yang mendukung pengembangan konsep ASI meliputi:
- Pengembangan algoritma machine learning yang semakin canggih.
- Riset berbasis neurosains untuk memahami cara kerja otak manusia.
- Kolaborasi lintas disiplin ilmu, termasuk ilmu komputer, filsafat, psikologi, dan etika AI.
Mengapa Siri Belum Bisa Disebut AGI?
Walaupun Siri dan Google Assistant mampu melakukan percakapan, mengatur jadwal, hingga menjawab berbagai pertanyaan, keduanya tetap dikategorikan sebagai Narrow AI.
Pasalnya, kemampuan mereka masih terbatas pada tugas-tugas yang telah dirancang pengembang. Asisten virtual ini belum memiliki kemampuan berpikir secara mandiri, memahami seluruh konteks kehidupan, maupun belajar seperti manusia tanpa pelatihan khusus.
Para ahli menilai bahwa AGI masih menjadi target jangka panjang dalam dunia pengembangan kecerdasan buatan, sementara ASI masih berada pada ranah teoritis dan belum menjadi teknologi nyata.









