Home / AI

Efek AI ke Ekonomi Global: Hampir 2 Juta Orang Jadi Kaya dalam Setahun

Thursday, 4 June 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Demam AI melahirkan jutawan baru. Kekayaan global mencetak rekor tertinggi setelah saham-saham teknologi melonjak sepanjang 2025. (Pexels/Tima Miroshnichenko)

Ilustrasi. Demam AI melahirkan jutawan baru. Kekayaan global mencetak rekor tertinggi setelah saham-saham teknologi melonjak sepanjang 2025. (Pexels/Tima Miroshnichenko)

TECHRUNNER – Gelombang perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya mengubah lanskap teknologi dunia, tetapi juga menjadi mesin baru penciptaan kekayaan global.

Sepanjang 2025, hampir 2 juta orang bergabung ke dalam kelompok individu kaya dunia seiring melonjaknya nilai saham perusahaan teknologi yang mendapat dorongan dari optimisme terhadap AI.

Dilansir dari laman World Wealth Report 2026 yang dirilis Capgemini pada Kamis, 4 Juni 2026. Total kekayaan individu dengan aset investasi minimal US$1 juta mencapai rekor baru sebesar US$98,3 triliun.

Angka tersebut meningkat hampir 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan mendekati nilai Produk Domestik Bruto (PDB) global yang diperkirakan mencapai US$111 triliun.

Jared Murphy, Head of Strategic Accounts BlackRock di Amerika Serikat yang turut berkontribusi dalam laporan tersebut, menyebut nilai kekayaan global yang mendekati US$100 triliun sebagai peluang investasi yang sangat besar di berbagai sektor ekonomi dunia.

AI Jadi Motor Utama Pertumbuhan Kekayaan

Ilustrasi. Di tengah pesatnya perkembangan AI, kesenjangan kekayaan global juga semakin terlihat. Saat jutaan orang menjadi kaya baru, kelompok superkaya terus menguasai porsi aset terbesar di dunia.

Laporan tersebut menyoroti bahwa reli pasar saham yang dipicu perkembangan teknologi AI menjadi faktor terbesar di balik lonjakan kekayaan global.

Tren ini mendorong jumlah individu dengan kekayaan bersih tinggi (High-Net-Worth Individuals/HNWI) meningkat hampir 2 juta orang menjadi 25,3 juta secara global.

Meski jumlah jutawan terus bertambah, distribusi kekayaan masih sangat terkonsentrasi pada kelompok superkaya. Individu dengan kekayaan bersih minimal US$30 juta mencatat pertumbuhan aset tercepat dibandingkan kelompok lain. Populasi mereka kini mencapai rekor sekitar 250.000 orang di seluruh dunia.

Prospek penciptaan kekayaan bahkan diperkirakan semakin cepat pada 2026. Sejumlah perusahaan teknologi bernilai tinggi seperti SpaceX, Anthropic, dan OpenAI disebut berpotensi menciptakan generasi baru jutawan hingga miliarder apabila melantai di bursa saham dalam beberapa tahun mendatang.

Amerika Serikat Pimpin Pertumbuhan Jutawan

Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah jutawan baru terbanyak sepanjang 2025. Negeri Paman Sam menambah sekitar 736.000 individu kaya baru sehingga total HNWI mencapai 8,7 juta orang. Kekayaan kelompok ini tumbuh sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, dari sisi kawasan, Asia Pasifik mencatat pertumbuhan kekayaan tercepat. Total kekayaan individu kaya di kawasan tersebut melonjak 10,5 persen, melampaui Amerika Utara. Kenaikan ini didorong tingginya permintaan semikonduktor yang mengangkat performa pasar saham Asia.

Jepang dan China menjadi kontributor utama dengan masing-masing menciptakan sekitar 436.000 dan 154.000 jutawan baru selama 2025.

Sebaliknya, Timur Tengah mengalami penurunan jumlah individu kaya sebesar 1,4 persen. Faktor harga minyak yang lebih rendah dan ketidakstabilan geopolitik menjadi penyebab utama perlambatan pertumbuhan kekayaan di kawasan tersebut.

Di Eropa, tren negatif yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir mulai berbalik. Jumlah individu kaya meningkat 6,5 persen berkat inflasi yang mulai terkendali dan stabilitas pasar saham. Luksemburg menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan tertinggi, mencatat kenaikan populasi HNWI sebesar 13,5 persen.

Saham Masih Jadi Pilihan Utama Investor Kaya

Performa pasar saham yang kuat membuat alokasi investasi pada instrumen ekuitas terus meningkat. Per Januari 2026, saham mencakup sekitar seperempat dari total portofolio individu kaya di seluruh dunia.

Sebaliknya, investasi alternatif seperti komoditas, aset kripto, hedge fund, dan private equity mengalami penurunan proporsi karena kinerja saham publik yang lebih menarik sepanjang tahun lalu.

Meski demikian, minat terhadap private equity tetap tinggi. Dua dari tiga investor kaya yang disurvei mengaku berencana meningkatkan eksposur mereka pada instrumen tersebut dalam beberapa tahun mendatang.

Laporan juga mencatat sekitar US$1,5 triliun aset baru tidak lagi mengalir ke lembaga keuangan tradisional sepanjang 2022 hingga 2025. Dana tersebut justru berpindah ke platform investasi modern, kantor keluarga (family office), serta aplikasi perdagangan digital seperti Robinhood.

Ketimpangan Kekayaan Meningkat

Di balik pertumbuhan jumlah jutawan, kesenjangan ekonomi global juga semakin melebar. Fenomena yang dikenal sebagai ekonomi berbentuk K menunjukkan kelompok kaya terus menikmati pertumbuhan aset yang jauh lebih cepat dibandingkan masyarakat kelas menengah dan bawah.

Data Federal Reserve menunjukkan bahwa 1 persen rumah tangga terkaya di Amerika Serikat kini menguasai hampir 32 persen dari total kekayaan nasional pada kuartal IV 2025. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak bank sentral AS mulai mencatat data tersebut pada 1989.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa revolusi AI tidak hanya menciptakan peluang ekonomi baru, tetapi juga berpotensi memperbesar konsentrasi kekayaan pada kelompok tertentu apabila tidak diimbangi dengan distribusi manfaat yang lebih merata.

Berita Terkait

Teknologi AI Makin Canggih, Nasib Customer Service Dipertanyakan
Hacker Bobol Akun Instagram Lewat Chatbot AI Meta
Harga RAM DDR5 Melonjak Gara-Gara Ledakan AI, Pengguna PC dan Gamer Mulai Ngeluh
Agen AI Dinilai Picu Kerusakan Tersembunyi dalam Pengembangan Software
Gemini Omni Jadi Terobosan Baru Google di Dunia AI Generatif
Di Tengah PHK Massal, Profesi Ini Justru Melejit Karena AI
7 Prompt AI yang Bisa Membantu Pemula Belajar Trading Bitcoin
Mengenal Brain Computer Interface, Teknologi yang Hubungkan Otak Manusia dengan AI

Insan Sujadi

Seorang penulis dan pemerhati perkembangan teknologi digital yang memiliki minat besar pada dunia kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Aktif menulis berbagai artikel seputar teknologi, inovasi digital, gadget, hingga tren AI terbaru yang berkembang di tingkat global.

instagram

Berita Terkait

Friday, 5 June 2026 - 17:08

Teknologi AI Makin Canggih, Nasib Customer Service Dipertanyakan

Thursday, 4 June 2026 - 15:33

Efek AI ke Ekonomi Global: Hampir 2 Juta Orang Jadi Kaya dalam Setahun

Tuesday, 2 June 2026 - 17:39

Hacker Bobol Akun Instagram Lewat Chatbot AI Meta

Friday, 29 May 2026 - 11:02

Harga RAM DDR5 Melonjak Gara-Gara Ledakan AI, Pengguna PC dan Gamer Mulai Ngeluh

Tuesday, 26 May 2026 - 16:09

Agen AI Dinilai Picu Kerusakan Tersembunyi dalam Pengembangan Software

Berita Terbaru

Berikut cara cek nilai tukar dolar ke rupiah menggunakan iPhone. (Sumber: Unsplash/charlesdeluvio)

iPhone

Cara Cek Kurs Dolar Hari Ini di iPhone tanpa Aplikasi

Thursday, 4 Jun 2026 - 13:03