TECHRUNNER – Industri kecerdasan buatan (AI) kembali dihadapkan pada persoalan keterbatasan infrastruktur.
Kali ini, Google dikabarkan membatasi penggunaan model AI Gemini oleh Meta karena kapasitas komputasi yang tersedia tidak mampu memenuhi permintaan perusahaan media sosial tersebut.
Laporan yang pertama kali diungkap oleh Financial Times menyebutkan bahwa pembatasan tersebut menjadi salah satu indikasi nyata bahwa lonjakan kebutuhan AI mulai melampaui kemampuan infrastruktur yang ada.
Meta Jadi Klien yang Paling Terdampak

Dilansir dari laman Financial Times pada Senin 29 Juni 2026. Google, yang berada di bawah naungan Alphabet Inc., menerapkan pembatasan layanan kepada sejumlah pelanggan.
Namun, Meta disebut menjadi perusahaan yang paling merasakan dampaknya. Akibat kebijakan tersebut, beberapa proyek internal Meta mengalami penyesuaian.
Perusahaan bahkan dilaporkan meminta karyawannya untuk menggunakan token AI secara lebih efisien guna mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.
Baik Google maupun Meta belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.
Gemini Sempat Jadi Andalan untuk Moderasi Konten
Sebelumnya, Meta diketahui memanfaatkan model AI Gemini untuk mendukung berbagai proses keamanan di platformnya.
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu menghapus konten berbahaya, mendeteksi aktivitas penipuan, hingga memperkuat sistem moderasi otomatis.
Laporan menyebutkan bahwa performa Gemini dinilai lebih unggul dibandingkan model open-source milik Meta sendiri, yakni Llama, untuk beberapa tugas tertentu.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir Meta mulai mengurangi ketergantungannya terhadap model eksternal dan beralih ke model AI internal terbarunya yang bernama Muse Spark.
Krisis Kapasitas Komputasi Jadi Tantangan Industri AI
Pesatnya perkembangan teknologi AI global telah meningkatkan kebutuhan akan pusat data, daya listrik, serta kapasitas komputasi dalam skala besar.
Kondisi ini membuat sejumlah perusahaan teknologi besar berlomba memperluas infrastruktur mereka agar mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Awal Juni 2026, Google dilaporkan menyepakati kerja sama layanan cloud bernilai sekitar US$30 miliar dengan SpaceX milik Elon Musk.
Kesepakatan tersebut mencakup penyediaan kapasitas komputasi dalam jumlah besar hingga pertengahan 2029 sebagai upaya memenuhi lonjakan kebutuhan AI.
Meta Terus Tingkatkan Investasi AI
Di sisi lain, AI tetap menjadi prioritas utama CEO Meta, Mark Zuckerberg, dalam mengembangkan visi jangka panjang perusahaan.
Sebagai bagian dari strategi efisiensi sekaligus percepatan pengembangan AI, Meta sebelumnya mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 10 persen tenaga kerjanya atau setara dengan 8.000 posisi.
Selain itu, perusahaan juga telah memindahkan sekitar 7.000 karyawan ke berbagai posisi baru yang berkaitan dengan pengembangan teknologi AI dalam rangka restrukturisasi bisnis secara menyeluruh.






