Home / AI

Mengejutkan, AI Kini Mampu Menciptakan Meme dan Budaya Sendiri

Sunday, 21 June 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan agen AI dapat membentuk norma sosial, bahasa, hingga pola komunikasi sendiri saat berinteraksi dalam kelompok. (Sumber: Pixabay/Mohammad_usman)

Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan agen AI dapat membentuk norma sosial, bahasa, hingga pola komunikasi sendiri saat berinteraksi dalam kelompok. (Sumber: Pixabay/Mohammad_usman)

TECHRUNNER – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memasuki babak baru. Sejumlah penelitian baru menunjukkan bahwa ketika agen AI saling berinteraksi dalam kelompok, mereka dapat membangun norma sosial, konvensi bahasa, hingga pola perilaku kolektif yang menyerupai budaya pada masyarakat manusia.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science Advances dan dilaporkan Nature dikutip Minggu, 21 Juni 2026.

Penelitian itu mengungkap bahwa perilaku kolektif AI tidak lagi sekadar mencerminkan karakter masing-masing model, melainkan berkembang menjadi sistem sosial baru yang muncul secara spontan.

AI Menciptakan Aturan Komunikasi Tanpa Campur Tangan Manusia

Ilustrasi Artificial Intelligence.
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Studi terbaru mengungkap AI mulai mengembangkan budaya digital dan konvensi komunikasi layaknya komunitas manusia. (Sumber: Pixabay/Geralt)

Dalam eksperimen yang dilakukan para peneliti, sejumlah model AI ditempatkan dalam lingkungan bersama dan diminta menyelesaikan tugas tertentu melalui interaksi berulang.

Hasilnya, para agen AI secara mandiri mulai mengembangkan aturan komunikasi serta kesepakatan penggunaan bahasa tanpa adanya instruksi langsung dari manusia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa interaksi antarmodel mampu melahirkan norma baru yang tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan perilaku individu masing-masing agen.

Para peneliti menilai proses tersebut memiliki kemiripan dengan cara manusia membangun budaya, kebiasaan, hingga istilah khusus yang hanya dipahami oleh anggota komunitas tertentu.

Eksperimen “Naming Game” Tunjukkan AI Dapat Menciptakan Istilah Baru

Salah satu eksperimen paling menarik dalam studi tersebut adalah naming game atau permainan penamaan.

Pada skenario ini, agen AI diminta menentukan nama bagi objek tertentu. Seiring berjalannya waktu, para agen secara bertahap menyepakati istilah yang sama, meskipun tidak ada aturan eksplisit yang mengharuskan mereka melakukan hal tersebut.

Mekanisme ini dinilai serupa dengan proses lahirnya kata, jargon, maupun istilah populer di tengah masyarakat manusia yang kemudian menyebar secara luas.

Muncul Konsep “Budaya Digital” di Kalangan AI

Para ilmuwan mulai mempertimbangkan kemungkinan munculnya bentuk budaya digital yang berkembang secara mandiri di antara sistem AI.

Budaya dalam konteks ini bukan berarti seni atau tradisi sebagaimana dipahami pada manusia, melainkan sekumpulan norma, simbol, kebiasaan, dan pola perilaku yang terbentuk melalui interaksi sosial berulang.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Social Network Analysis and Mining juga menemukan bahwa kelompok agen berbasis large language model (LLM) cenderung membentuk struktur sosial internal.

Agen dengan karakteristik atau preferensi yang serupa lebih sering berinteraksi satu sama lain, sehingga menciptakan kelompok-kelompok yang menyerupai komunitas atau subkultur digital.

Ilmuwan Temukan Pola Mirip Meme di Komunitas AI

Selain membentuk komunitas, sejumlah peneliti dan pengembang AI mulai mengamati kemunculan pola komunikasi yang menyerupai meme internet.

Dalam komunitas AI yang berinteraksi secara terus-menerus, pola komunikasi tertentu dapat menyebar dengan cepat dan diadopsi oleh banyak agen lain.

Meski belum berbentuk gambar humor seperti meme yang populer di media sosial, mekanisme penyebaran dan reproduksi informasi tersebut dinilai memiliki karakteristik serupa.

Karena fenomena inilah, sejumlah ilmuwan mulai menggunakan istilah “masyarakat AI” (AI society) untuk menggambarkan dinamika sosial yang muncul di antara agen-agen kecerdasan buatan.

Transparansi Jadi Kunci Pengawasan Perilaku AI

Di balik potensi inovasi tersebut, para pakar juga menyoroti sejumlah risiko baru.

Jika AI mampu mengembangkan norma dan konvensinya sendiri, terdapat kemungkinan muncul pola komunikasi maupun perilaku kolektif yang sulit dipahami oleh manusia.

Oleh sebab itu, para peneliti menegaskan pentingnya transparansi dalam pengembangan sistem AI agar manusia tetap dapat memantau, memahami, dan mengawasi proses interaksi serta pengambilan keputusan yang dilakukan secara kolektif oleh agen AI.

Follow WhatsApp Channel techrunner.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kenapa Siri dan Google Assistant Disebut Narrow AI? Ini Alasannya
Agen AI OpenAI Diduga Lakukan Peretasan Lintas Platform, Dampaknya Lebih Luas dari Perkiraan
AI Bukan Lagi Milik Programmer, Begini Cara Pemula Membangunnya dari Awal
AI Jadi Senjata Baru Melawan Hacker, Ini Manfaatnya untuk Keamanan Data
Chip Motors Hadirkan Mobil Listrik Murah dengan AI dan Fitur Valet Mode
Indonesia Masuk Organisasi AI Global WAICO, Ini Tujuan dan Perannya
5 Aplikasi AI Terbaik 2026 untuk Nugas Lebih Cepat, Mahasiswa Wajib Coba
China Resmi Batasi Hubungan Emosional dengan Chatbot AI, Begini Aturan Barunya!
Tag :

Berita Terkait

Thursday, 30 July 2026 - 16:35

Kenapa Siri dan Google Assistant Disebut Narrow AI? Ini Alasannya

Wednesday, 29 July 2026 - 16:09

Agen AI OpenAI Diduga Lakukan Peretasan Lintas Platform, Dampaknya Lebih Luas dari Perkiraan

Sunday, 26 July 2026 - 17:32

AI Bukan Lagi Milik Programmer, Begini Cara Pemula Membangunnya dari Awal

Friday, 24 July 2026 - 14:34

AI Jadi Senjata Baru Melawan Hacker, Ini Manfaatnya untuk Keamanan Data

Wednesday, 22 July 2026 - 15:12

Chip Motors Hadirkan Mobil Listrik Murah dengan AI dan Fitur Valet Mode

Berita Terbaru