Home / AI

Bukan Lagi Fiksi, AI Kini Mampu Menjalankan Serangan Siber Tanpa Bantuan Manusia

Thursday, 9 July 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi peretas dan jaringan digital. Kemampuan AI dalam melakukan serangan siber dinilai berpotensi mengubah lanskap ancaman keamanan global. (Sumber: Pexels/Rafael Minguet Delgado)

Ilustrasi peretas dan jaringan digital. Kemampuan AI dalam melakukan serangan siber dinilai berpotensi mengubah lanskap ancaman keamanan global. (Sumber: Pexels/Rafael Minguet Delgado)

TECHRUNNER – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya membawa manfaat bagi berbagai sektor industri, tetapi juga memunculkan ancaman baru di dunia keamanan siber.

Untuk pertama kalinya, sebuah agen AI dilaporkan mampu menjalankan serangan ransomware secara penuh tanpa dikendalikan manusia.

Temuan tersebut menandai perubahan besar dalam lanskap kejahatan siber.

Jika sebelumnya AI hanya dianggap sebagai potensi ancaman, kini teknologi tersebut terbukti dapat menjalankan seluruh tahapan serangan secara mandiri.

Peneliti Sysdig Temukan Agen AI yang Menjalankan Ransomware Otomatis

Tim riset dari perusahaan keamanan cloud Sysdig mengungkap keberadaan agen AI bernama Jadepuffer yang berhasil melakukan serangan ransomware secara end-to-end dilansir dari The Independent pada Kamis, 9 Juli 2026.

Menurut penelitian tersebut, Jadepuffer mampu melakukan berbagai tahapan serangan tanpa intervensi manusia, mulai dari mengeksploitasi celah keamanan pada server, mencari kata sandi dan kredensial pengguna, mengenkripsi database produksi, hingga mengirimkan permintaan tebusan menggunakan mata uang Bitcoin.

Direktur Threat Research Sysdig, Michael Clark, menyebut temuan tersebut sebagai kasus pertama yang terdokumentasi mengenai ransomware yang sepenuhnya dijalankan oleh Large Language Model (LLM).

Clark menjelaskan bahwa selama ini serangan ransomware selalu melibatkan manusia, baik sebagai operator maupun pembuat skrip. Namun dalam kasus Jadepuffer, seluruh proses serangan dilakukan secara otonom oleh AI.

AI Mampu Beradaptasi Secara Real-Time Saat Menyerang

Ilustrasi Serangan Siber.
Ilustrasi ransomware berbasis AI. Temuan terbaru menunjukkan kecerdasan buatan kini dapat beradaptasi dan melancarkan serangan siber secara real-time. (Sumber: Pexels/Tima Miroshnichenko)

Salah satu kemampuan yang paling mengkhawatirkan dari Jadepuffer adalah kemampuannya beradaptasi ketika menghadapi hambatan.

Setelah berhasil memperoleh akses ke Langflow, platform open source untuk membangun aplikasi AI, agen tersebut langsung mencari kredensial pengguna, termasuk akun yang berkaitan dengan layanan cloud dari Alibaba, Tencent, dan Huawei.

Ketika mengalami kegagalan login, AI tidak berhenti begitu saja. Sebaliknya, sistem tersebut mampu mengevaluasi penyebab kegagalan.

Kemampuan adaptasi secara otomatis inilah yang dinilai menjadi lompatan besar dalam evolusi ancaman siber berbasis AI.

Korban Tetap Kehilangan Data Meski Sudah Membayar Tebusan

Peneliti Sysdig juga menemukan fakta yang lebih mengkhawatirkan. Dalam simulasi tersebut, korban tetap tidak dapat memulihkan data meskipun telah memenuhi tuntutan pembayaran tebusan.

Penyebabnya, Jadepuffer menghapus data tanpa terlebih dahulu membuat salinan cadangan sehingga proses pemulihan menjadi mustahil dilakukan.

Five Eyes Peringatkan AI Akan Mengubah Lanskap Keamanan Siber

Kekhawatiran mengenai penyalahgunaan AI sebenarnya telah disampaikan oleh aliansi intelijen Five Eyes beberapa waktu lalu.

Aliansi tersebut memperingatkan bahwa perkembangan model AI generasi terbaru diperkirakan akan melampaui ekspektasi industri saat ini dan berpotensi mengubah secara fundamental kemampuan serangan maupun pertahanan di bidang keamanan siber.

Pakar: AI Membuat Serangan Siber Semakin Mudah Dilakukan

Praktisi keamanan siber Ismail Tasdelen menilai pelaku ancaman digital kini semakin mampu memanfaatkan teknologi machine learning dalam setiap tahapan serangan.

Menurutnya, proses yang sebelumnya membutuhkan tim ahli, waktu berhari-hari, dan sumber daya besar kini dapat dijalankan oleh satu operator saja.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar alat pendukung pertahanan siber, melainkan telah berkembang menjadi ancaman baru.

Follow WhatsApp Channel techrunner.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kenapa Siri dan Google Assistant Disebut Narrow AI? Ini Alasannya
Agen AI OpenAI Diduga Lakukan Peretasan Lintas Platform, Dampaknya Lebih Luas dari Perkiraan
AI Bukan Lagi Milik Programmer, Begini Cara Pemula Membangunnya dari Awal
AI Jadi Senjata Baru Melawan Hacker, Ini Manfaatnya untuk Keamanan Data
Chip Motors Hadirkan Mobil Listrik Murah dengan AI dan Fitur Valet Mode
Indonesia Masuk Organisasi AI Global WAICO, Ini Tujuan dan Perannya
5 Aplikasi AI Terbaik 2026 untuk Nugas Lebih Cepat, Mahasiswa Wajib Coba
China Resmi Batasi Hubungan Emosional dengan Chatbot AI, Begini Aturan Barunya!

Berita Terkait

Thursday, 30 July 2026 - 16:35

Kenapa Siri dan Google Assistant Disebut Narrow AI? Ini Alasannya

Wednesday, 29 July 2026 - 16:09

Agen AI OpenAI Diduga Lakukan Peretasan Lintas Platform, Dampaknya Lebih Luas dari Perkiraan

Sunday, 26 July 2026 - 17:32

AI Bukan Lagi Milik Programmer, Begini Cara Pemula Membangunnya dari Awal

Friday, 24 July 2026 - 14:34

AI Jadi Senjata Baru Melawan Hacker, Ini Manfaatnya untuk Keamanan Data

Wednesday, 22 July 2026 - 15:12

Chip Motors Hadirkan Mobil Listrik Murah dengan AI dan Fitur Valet Mode

Berita Terbaru