TECHRUNNER – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memasuki babak baru. Sejumlah penelitian baru menunjukkan bahwa ketika agen AI saling berinteraksi dalam kelompok, mereka dapat membangun norma sosial, konvensi bahasa, hingga pola perilaku kolektif yang menyerupai budaya pada masyarakat manusia.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science Advances dan dilaporkan Nature dikutip Minggu, 21 Juni 2026.
Penelitian itu mengungkap bahwa perilaku kolektif AI tidak lagi sekadar mencerminkan karakter masing-masing model, melainkan berkembang menjadi sistem sosial baru yang muncul secara spontan.
AI Menciptakan Aturan Komunikasi Tanpa Campur Tangan Manusia

Dalam eksperimen yang dilakukan para peneliti, sejumlah model AI ditempatkan dalam lingkungan bersama dan diminta menyelesaikan tugas tertentu melalui interaksi berulang.
Hasilnya, para agen AI secara mandiri mulai mengembangkan aturan komunikasi serta kesepakatan penggunaan bahasa tanpa adanya instruksi langsung dari manusia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa interaksi antarmodel mampu melahirkan norma baru yang tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan perilaku individu masing-masing agen.
Para peneliti menilai proses tersebut memiliki kemiripan dengan cara manusia membangun budaya, kebiasaan, hingga istilah khusus yang hanya dipahami oleh anggota komunitas tertentu.
Eksperimen “Naming Game” Tunjukkan AI Dapat Menciptakan Istilah Baru
Salah satu eksperimen paling menarik dalam studi tersebut adalah naming game atau permainan penamaan.
Pada skenario ini, agen AI diminta menentukan nama bagi objek tertentu. Seiring berjalannya waktu, para agen secara bertahap menyepakati istilah yang sama, meskipun tidak ada aturan eksplisit yang mengharuskan mereka melakukan hal tersebut.
Mekanisme ini dinilai serupa dengan proses lahirnya kata, jargon, maupun istilah populer di tengah masyarakat manusia yang kemudian menyebar secara luas.
Muncul Konsep “Budaya Digital” di Kalangan AI
Para ilmuwan mulai mempertimbangkan kemungkinan munculnya bentuk budaya digital yang berkembang secara mandiri di antara sistem AI.
Budaya dalam konteks ini bukan berarti seni atau tradisi sebagaimana dipahami pada manusia, melainkan sekumpulan norma, simbol, kebiasaan, dan pola perilaku yang terbentuk melalui interaksi sosial berulang.
Penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Social Network Analysis and Mining juga menemukan bahwa kelompok agen berbasis large language model (LLM) cenderung membentuk struktur sosial internal.
Agen dengan karakteristik atau preferensi yang serupa lebih sering berinteraksi satu sama lain, sehingga menciptakan kelompok-kelompok yang menyerupai komunitas atau subkultur digital.
Ilmuwan Temukan Pola Mirip Meme di Komunitas AI
Selain membentuk komunitas, sejumlah peneliti dan pengembang AI mulai mengamati kemunculan pola komunikasi yang menyerupai meme internet.
Dalam komunitas AI yang berinteraksi secara terus-menerus, pola komunikasi tertentu dapat menyebar dengan cepat dan diadopsi oleh banyak agen lain.
Meski belum berbentuk gambar humor seperti meme yang populer di media sosial, mekanisme penyebaran dan reproduksi informasi tersebut dinilai memiliki karakteristik serupa.
Karena fenomena inilah, sejumlah ilmuwan mulai menggunakan istilah “masyarakat AI” (AI society) untuk menggambarkan dinamika sosial yang muncul di antara agen-agen kecerdasan buatan.
Transparansi Jadi Kunci Pengawasan Perilaku AI
Di balik potensi inovasi tersebut, para pakar juga menyoroti sejumlah risiko baru.
Jika AI mampu mengembangkan norma dan konvensinya sendiri, terdapat kemungkinan muncul pola komunikasi maupun perilaku kolektif yang sulit dipahami oleh manusia.
Oleh sebab itu, para peneliti menegaskan pentingnya transparansi dalam pengembangan sistem AI agar manusia tetap dapat memantau, memahami, dan mengawasi proses interaksi serta pengambilan keputusan yang dilakukan secara kolektif oleh agen AI.






