TECHRUNNER= – Pemerintah China resmi menerapkan sejumlah regulasi baru terhadap layanan AI companion atau chatbot pendamping.
Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi risiko ketergantungan emosional terhadap teknologi sekaligus memperkuat pengawasan terhadap perkembangan kecerdasan buatan di negara tersebut.
Menurut pemerintah setempat, hubungan emosional yang berlebihan dengan chatbot AI dikhawatirkan dapat memperkuat kecenderungan sebagian generasi muda untuk menunda menikah maupun memiliki anak.
Aturan baru ini juga menjadi bagian dari pengawasan yang lebih luas terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan di China.
Selain mengatur aspek keamanan data, pemerintah kini mulai memperhatikan dampak sosial dan psikologis yang dapat ditimbulkan oleh layanan AI companion.
Lantas, seperti apa aturan baru yang diterapkan pemerintah China terhadap chatbot AI dan apa alasan di balik kebijakan tersebut? Berikut penjelasan selengkapnya.
Alasan di balik kebijakan Chatbot AI
Adapun sejumlah faktor yang melatarbelakangi penerapan aturan tersebut, yakni sebagai berikut.
1. China Kini Menghadapi Krisis Demografi
Berbeda dengan beberapa dekade lalu ketika China berupaya mengendalikan ledakan jumlah penduduk, kini pemerintah justru menghadapi tantangan sebaliknya.
Jumlah bayi yang lahir setiap tahun terus mengalami penurunan sehingga pemerintah berupaya mendorong peningkatan angka kelahiran.
Penurunan tersebut berdampak langsung terhadap menyusutnya jumlah penduduk China dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai salah satu upaya menghadapi persoalan tersebut, pemerintah mulai memperketat pengawasan terhadap layanan chatbot AI yang memungkinkan pengguna menjalin hubungan emosional layaknya dengan manusia.
2. Populasi China Terus Menyusut
Kondisi demografi menjadi salah satu alasan utama lahirnya kebijakan baru tersebut.
Pada 2025, populasi China kembali mengalami penurunan untuk keempat kalinya secara berturut-turut.
Dalam periode yang sama, angka kelahiran juga tercatat sebagai yang terendah sepanjang sejarah modern negara tersebut.
Akibat tren tersebut, China tidak lagi menyandang status sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Posisi tersebut kini telah diambil alih oleh India.
Pemerintah memperkirakan penyusutan jumlah penduduk masih akan terus berlanjut apabila tidak ada kebijakan yang mampu meningkatkan angka kelahiran dan mendorong masyarakat membangun keluarga.
3. Generasi Muda Semakin Enggan Menikah
Selain faktor ekonomi dan tingginya biaya hidup, pemerintah China juga mencermati perubahan gaya hidup masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.
Semakin banyak anak muda yang memilih hidup sendiri, menunda pernikahan, atau memutuskan tidak memiliki anak.
Kondisi tersebut dinilai ikut mempercepat penurunan angka kelahiran di negara itu.
Fenomena tersebut kemudian menjadi perhatian pemerintah dalam menyusun berbagai kebijakan sosial maupun teknologi.
4. AI Companion Dinilai Berpotensi Memengaruhi Keputusan Menikah
Kemunculan layanan AI companion juga menjadi salah satu perhatian pemerintah China.
AI companion merupakan chatbot berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk memberikan pengalaman percakapan yang lebih personal.
Teknologi ini mampu memberikan dukungan emosional, menjadi teman berbincang, hingga menciptakan interaksi yang menyerupai hubungan dengan manusia.
Pemerintah menilai hubungan emosional yang terlalu kuat dengan chatbot berpotensi membuat sebagian pengguna merasa cukup memperoleh dukungan sosial dari dunia digital.
Sehingga, hal tersebut dapat mengurangi keinginan menjalin hubungan nyata, menikah, maupun membangun keluarga.
Aturan Baru China untuk Chatbot AI
Berikut beberapa poin-poin aturan yang diberlakukan oleh Pemerintah China terkain penggunaan Chatbot AI.
1. Melarang Hubungan Emosional AI dengan Pengguna di Bawah Umur
Pemerintah China melarang chatbot AI membangun hubungan virtual maupun ikatan emosional dengan pengguna yang masih berusia di bawah umur.
Anak-anak dan remaja tidak diperbolehkan menggunakan layanan AI companion yang dirancang menyerupai teman atau pasangan virtual.
2. Membatasi Chatbot yang Mendorong Ketergantungan Emosional
Regulasi juga melarang pengembang menciptakan chatbot yang secara sengaja membuat pengguna mengalami ketergantungan emosional.
Layanan AI tidak boleh dirancang untuk memanipulasi psikologis pengguna agar terus berinteraksi atau bergantung pada chatbot.
3. Wajib Lolos Evaluasi Regulator Sebelum Diluncurkan
Seluruh layanan chatbot pendamping diwajibkan menjalani proses pemeriksaan dan evaluasi dari regulator sebelum dapat dipasarkan kepada masyarakat.
Pengawasan ini merupakan bagian dari sistem regulasi AI yang telah diterapkan pemerintah China terhadap teknologi kecerdasan buatan.
4. Regulator Berwenang Menutup Layanan Chatbot
Pemerintah memberikan kewenangan kepada regulator untuk menghentikan operasional platform chatbot yang dinilai melanggar aturan atau berpotensi membahayakan masyarakat.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pengawasan terhadap penyelenggara layanan AI di China.









